Bayi Dicovidkan Rumah Sakit

Rajudin Sagala Ungkap Bayi Diduga Dicovidkan RSUD Pirngadi Gagal Dioperasi karena Tak Ada Dokter

Awalnya ia menceritakan soal bayi tersebut sempat menunggu di ruang operasi pada Selasa (8/6/2021) sekitar pukul 22.00 WIB sampai 00.30 WIB.

Tribun-medan.com/ Goklas
Wakil Ketua DPRD Kota Medan Rajudin Sagala turut berduka cita atas meninggalnya bayi yang sebelumnya dikabarkan diduga dicovidkan RSUD Pirngadi,Kamis (10/6/2021). 

Laporan Wartawan Tribun-Medan/Goklas Wisely

TRIBUN-MEDAN.com, Medan - Wakil Ketua DPRD Kota Medan Rajudin Sagala mengungkap bahwa bayi yang diduga dicovidkan RSUD Pringadi tidak jadi dioperasi karena tiada dokter.

Hal itu disampaikan Rajudin setelah selesai berkunjung ke rumah duka di Jalan Jangka, Gang Sehat, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Sumatra Utara, Kamis (10/6/2021).

WAKIL Ketua DPRD Medan, Rajuddin Sagala.
WAKIL Ketua DPRD Medan, Rajuddin Sagala. (TRIBUN MEDAN/HO)

Awalnya ia menceritakan soal bayi tersebut sempat menunggu di ruang operasi pada Selasa (8/6/2021) sekitar pukul 22.00 WIB sampai 00.30 WIB.

Dia menjelaskan alasan dari pihak RSUD Pirngadi sangat beragam sehingga bayi tersebut tidak tertangani.

"Masalah pertama itu, bayinya sempat dicovidkan. Kedua buat alasan baru, selang infusnya tidak ada. Nah, padahal saat masuk ke ruang yang lama kok selang infusnya sudah ada dan berjalan normal kembali," ujar Rajudin kepada Tribun Medan..

Setelah itu, Bibi bayi itu tanya sama petugas rumah sakit. Si bibi bilang rumah sakit tolong jujur soal alasannya. Terakhir dibilang lah, dokter yang mau mengoperasi tidak ada," sambungnya.

Ia pun menyayangkan kejadian tersebut bisa terjadi dan berujung meninggal dunia. Rajudin merasa kesal terhadap tindakan RSUD Pringadi.

"Ya kita evaluasi dan dalam waktu dekat akan memanggil pihak managemen rumah sakit untun rapat dengar pendapat. Saya yakin ini bukan kesalahan managemen. Pasti oknum petugas media dan ini perlu dievaluasi bila perlu dikasih sangsi agar tidak mengorbankan orang," tandasnya.

Sebelumnya dikabarkan, kabar duka datang dari bayi malang yang sempat diduga dicovidkan RSUD Pirngadi Medan.

Sekira pukul 08.00 WIB, bayi berjenis kelamin perempuan bernama Khayra Hanifah Al Maghfirah itu kabarnya meninggal dunia.

Menurut penuturan kerabat korban, saat ini pihak keluarga tengah mengurus prosesi pemakaman Khayra Hanifah Al Maghfirah.

"Iya, tadi sekira jam 08.00 WIB meninggal dunia. Saat ini jenazahnya masih di rumah duka,' kata Nisa, kerabat korban ketika dihubungi www.tribun-medan.com, Kamis (10/6/2021).

Nisa mengatakan, alamat rumah duka berada di Jalan jangka, gang Sehat No 44, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah.

"Rencananya hari ini jenazah akan dimakamkan di tempat pemakaman umum kawasan Sei Sekambing Medan yang ada di dekat kampus Panca Budi," kata Nisa.

Kasus yang dialami Khayra Hanifah Al Maghfirah ini cukup menyita perhatian publik. Ada pun bayi tersebut telah usai dimakamkan di pemakaman sekitar jalan Sei Kambing.

Ini Penjelasan Detik-detik Terakhir sebelum Bayi Diduga Dicovidkan RSUD Pirngadi Meninggal Dunia

Bayi yang sebelumnya dikabarkan diduga dicovidkan RSUD Pringadi kini telah meninggal dunia.

Pihak keluarga saat dijumpai Tribun Medan di rumah duka di Jalan Jangka, Gang Sehat, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Sumatra Utara, terlihat amat sedih atas kepergian anaknya.

Sang ayah pun sempat mengatakan kepada Tribun Medan bahwa anaknya sebelumnya dirawat di RSUD Pirngadi. Namun karena mendapatkan pelayanan tang buruk, anaknya terpaksa dibawa ke rumah untuk dirawat secara mandiri.

Padahal, kondisi anak tersebut memprihatinkan.

Bayi yang masih berusia 22 hari itu, mengidap penyakit tidak bisa membuang air besar.

Saluran pencernaannya tersumbat.

Di detik - detik terakhir sebelum menghembuskan nafas terakhir, sang ayah menjelaskan anaknya sempat minum susu yang diberikan ibunya dengan sendok.

"Iya pagi tadi aku kan sudah berangkat untuk kerja. Masih setengah jam di jalan meninggalkan anakku, aku sudah mendapat kabar tidak bernafas lagi," ujarnya kepada Tribun Medan.

Dia pun mengungkapkan setelah disulangi susu dengan sendok, anaknya sempat berdahak tiga kali. Setelah itulah, baru badan anak tersebut kaku dan tiada lagi bernafas.

Sentak ibunya pun khawatir dan langsung menelpon suaminya agar segera pulang dan melihat kondisi anaknya. Dia mengungkapkan, saat ia datang, anaknya sudah tidak bernafas dengan kondisi fisik perut yang menggembung.

Sebelumnya dikabarkan, kabar duka datang dari bayi malang yang sempat diduga dicovidkan RSUD Pirngadi Medan.

Sekira pukul 08.00 WIB, bayi berjenis kelamin perempuan bernama Khayra Hanifah Al Maghfirah itu kabarnya meninggal dunia.

Menurut penuturan kerabat korban, saat ini pihak keluarga tengah mengurus prosesi pemakaman Khayra Hanifah Al Maghfirah.

"Iya, tadi sekira jam 08.00 WIB meninggal dunia. Saat ini jenazahnya masih di rumah duka,' kata Nisa, kerabat korban ketika dihubungi www.tribun-medan.com, Kamis (10/6/2021).

Nisa mengatakan, alamat rumah duka berada di Jalan jangka, gang Sehat No 44, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah.

"Rencananya hari ini jenazah akan dimakamkan di tempat pemakaman umum kawasan Sei Sekambing Medan yang ada di dekat kampus Panca Budi," kata Nisa.

Kasus yang dialami Khayra Hanifah Al Maghfirah ini cukup menyita perhatian publik. Ada pun bayi tersebut telah usai dimakamkan di pemakaman sekitar jalan Sei Kambing.

DPRD Kota Medan Ungkap Setahun Terakhir Pelayanan RSUD Pirngadi Buruk di Mata Rakyat

Wakil Ketua DPRD Kota Medan Rajudin Sagala turut berduka cita atas meninggalnya bayi yang sebelumnya dikabarkan diduga dicovidkan RSUD Pirngadi.

Amatan Tribun Medan, Rajudin Sagala datang ke rumah duka sekitar pukul 11.30 WIB di Jalan Jangka, Gang Sehat, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Sumatra Utara, Kamis (10/6/2021).

"Iya sayang datang untuk turut berduka cita atas meninggalnya bayi yang sebelumnya sempat dirawat di RSUD Pirngadi," kata Rajudin kepada Tribun Medan.

Saat ia datang, pihak keluarga atau orangtua bayi tersebut pun menyambutnya dengan hangat. Masih terlihat jelas mimik wajah dari kedua orang tuanya menyimpan kesedihan teramat dalam.

Sang ibu pun memulai cerita kepada Rajudin terkait kejadian - kejadian yang dialaminya di RSUD Pringadi. Kekesalannya pun tertumpah dalam bentuk kata - kata dengan nada yang bergetar.

Rajudin pun berusaha untuk meneguhkan kedua orang tua dan keluarga yang ditinggalkan oleh bayi tersebut.

"Tentu ini adalah kejadian yang miris. Kami akan segera panggil RSUD Pirngadi agar dapat menjelaskan seluruhnya," sebutnya.

Sebelumnya dikabarkan, kabar duka datang dari bayi malang yang sempat diduga dicovidkan RSUD Pirngadi Medan.

Sekira pukul 08.00 WIB, bayi berjenis kelamin perempuan bernama Khayra Hanifah Al Maghfirah itu kabarnya meninggal dunia.

Menurut penuturan kerabat korban, saat ini pihak keluarga tengah mengurus prosesi pemakaman Khayra Hanifah Al Maghfirah.

"Iya, tadi sekira jam 08.00 WIB meninggal dunia. Saat ini jenazahnya masih di rumah duka,' kata Nisa, kerabat korban ketika dihubungi www.tribun-medan.com, Kamis (10/6/2021).

Nisa mengatakan, alamat rumah duka berada di Jalan jangka, gang Sehat No 44, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah.

"Rencananya hari ini jenazah akan dimakamkan di tempat pemakaman umum kawasan Sei Sekambing Medan yang ada di dekat kampus Panca Budi," kata Nisa.

Kasus yang dialami Khayra Hanifah Al Maghfirah ini cukup menyita perhatian publik.
Ada pun bayi tersebut telah usai dimakamkan di pemakaman sekitar jalan Sei Kambing.

INNALILLAHI Bayi Khayra yang Diduga Dicovidkan RS Pirngadi Meninggal Dunia

Bayi Khayra yang viral di media sosial lantaran dugaan dicovidkan RS Pirngadi mengembuskan nafas terakhirnya.

Kabar sarat duka ini diuarkan via media sosial atas akun @nisaabilla, yang menuliskan, 

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un.

Telah berpulang ke Rahmatullah anak kami Khayra Hanifah Al Magfirah pagi ini pukul 07:40.

Alamat rumah duka Jl Jangka Gg. Sehat No 44 C. Mohon doanya agar anak kami Husnul Khatimah.

Sebelumnya, RSUD Pirngadi kembali diterpa isu miring terkait buruknya pelayanan kesehatan.

Rumah sakit yang menjadi salah satu ikon kota Medan tersebut diduga mengcovidkan pasiennya.

LIVE STREAMING

Keluarga pasien, Annisa pun menceritakan persoalan tersebut kepada Tribun Medan melalui saluran telepon, Rabu (9/6/2021).

Dia menjelaskan awalnya anaknya yang masih bayi tersebut mendapat rujukan dari RS Stella Maris ke RSUD Pirngadi pada Senin (7/6/2021) malam, sekitar pukul 22.00 WIB.

Saat itu anaknya mengantongi surat negatif Covid-19 berdasarkan Tes Swab di RS Stella Maris.

Namun ketika anaknya mau dioperasi Selasa (8/6/2021) sekitar pukul 18.30 WIB, ia tersentak mendekatkan kabar dari tenaga medis RSUD Pringadi yang mengatakan anaknya reaktif atau terpapar Covid-19.

Hasil terpapar itu pun berangkat dari Tes Antibodi yang dilakukan pihak RSUD Pringadi dan disampaikan secara lisan.

Rasa curiganya pun muncul secara simultan.

Sebab, sejak anaknya dimasukkan ke ruangan untuk dirawat, dari awal masuk sampai sore hari, ia tidak ada kontak secara langsung.

Selain itu, Annisa mengaku selalu berada di depan ruangan anaknya dirawat, kecuali saat tengah malam sampai subuh karena harus istirahat.

"Aku stay (tetap berjaga) di depan ruang anakku mulai pagi. Tapi aku juga tidak melihat anakku ada di Tes Antibodi. Bahkan pihak suster juga tidak ada yang permisi ke aku," sebutnya.

Suster pun mengatakan anaknya akan dipindahkan ke ruangan pasien Covid-19 baru dioperasi.

Dia pun memberontak.

Sempat terjadi percekcokan.

Annisa sangat tidak terima anaknya dikatakan positif Covid-19.

Ia pun melayangkan pertanyaan kepada dokter yang bertugas soal mana yang lebih akurat antara hasil Tes Swab Antigen yang didapatnya dari rumah sakit sebelumnya dengan Rapid Antibodi yang dilakukan RSUD Pringadi.

"Dibilang dokter itu, ya benar lebih akurat Tes Swab Antigen. Tapi tetap berdalih bahwa itu hasil laboratorium terbaru sehingga menjadi rujukan," ujarnya.

"Kalau pun positif berarti dari suster. Karena yang kontak langsung dengan anakku cuma suster. Kalau saya tantang di sini susternya semua di Swab apakah kalian berani? Artinya suster itulah yang tularkan kalau dibilang anak saya Covid-19," lanjutnya.

Setelah diucapkannya seperti itu, para suster dan dokter pun berdalih lain-lain demi mempertahankan status pasien agar tetap positif Covid-19.

Sewaktu itu juga, ia pun langsung menelepon Wakil Ketua DPRD Medan Rajudin Sagala untuk mengadukan persoalan tersebut.

Kemudian, Rajudin pun, dikatakannya, menelepon Direktur RSUD Pirngadi.

Terakhir Direktur memerintahkan susternya untuk melakukan Tes Swab Antigen kepada pasien sebelum operasi.

Saat suster mau melakukan Swab Antigen, Annisa pun mempertanyakan segel alatnya.

Kemudian suster tersebut menunjukkan alat Swab Antigen yang masih tersegel.

Terakhir, hasil dari Swab Antigen itu pun pasien dinyatakan negatif.

Anaknya pun akhirnya akan dioperasi di ruang bukan untuk pasien Covid-19 sekitar pukul 22.00 WIB.

Dengan penuh kekhawatiran karena kondisi anaknya yang cukup memperihatinkan, Annisa dan keluarga pun menunggu proses medis.

Menunggu di depan ruang operasi dari pukul 22.00 WIB - 00.30 WIB, Annisa dikagetkan pula dengan kabar bahwa anaknya tidak bisa dioperasi.

Alasan pihak RSUD Pirngadi karena tidak tersedianya alat medis untuk melakukan operasi.

Emosinya pun tidak terbendung menyasar para medis yang bertugas.

"Lah, kenapa alatnya tidak dipersiapkan dulu sebelum operasi. Kemudian yang menjadi soalnya kenapa anak saya kan masuk ruang operasi pukul 22.00 WIB - 00.30 WIB. Nah itu ngapain? Apa mereka diskusi lagi di dalam, mau operasi atau enggak," sebutnya dengan nada yang teramat kesal.

Sampai ia katakan, apakah karena pihaknya berobat dengan gratis makanya dipermainkan sedemikian rupa.

Ia pun mempertanyakan masa tidak ada infus dari rumah sakit yang lain.

"Sampai saya bilang telpon rumah sakit Adam Malik, kalau ada selang ini di sana, maka saya yang ambil. Tidak apa-apa. Kalau enggak pindahkan anak saya ke sana sekarang. Itu kubilang sama mereka," ujarnya.

Namun, ternyata satu per satu dokter pergi dan hanya tinggal manajemen kepala ruangan yang bertugas saat itu.

Pihak manajemen itu menjelaskan pihak RSUD Pirngadi telah menelpon seluruh rumah sakit bahwa alat infus tersebut memang kosong sehingga tidak melakukan operasi.

"Ya manager itu menjelaskan selang infusnya ukuran nomor tiga yang dibutuhkan dan tidak ada," katanya.

Di dalam benaknya sampai saat ini memendam kepiluan bercampur amarah.

Karena menurutnya tidak wajar, sejak pagi hari sudah dikatakan oleh pihak RSUD Pirngadi mau operasi tetapi ujung-ujungnya perlengkapan medisnya tidak mencukupi.

Hal yang memilukan lagi, laporan terkait anaknya yang terpapar Covid-19 atau pun tidak, juga tidak diberikan oleh pihak RSUD Pirngadi.

Pihak rumah sakit mengatakan kalau mau mendapatkan laporan tersebut harus menahan data keluarga pasien berupa KTP dan KK.

Bahkan saat ia meminta hasil diagnosa anaknya juga tidak diberikan.

Padahal hasil itu diperlukan jika ingin pindah ke rumah sakit lain agar tidak melalui beragam tes lagi.

"Itu sampai-sampai kami hanya minta fotokopi hasil diagnosa aja. Untuk hasil Tes Swab dan Antibodi juga engga bisa. Kami minta difoto pun tidak boleh, padahal sebelumnya dibilang tidak apa-apa," katanya.

"Mereka bilang kalau mau ambil data tanpa tahan identitas harus panjar Rp 2.150.000. Ya masa kami harus keluarkan uang untuk lembaran kertas laporan itu. Karena kesal, kami pulanglah," lanjutnya.

Sampai saat ini, Annisa mengaku trauma berobat ke rumah sakit pemerintah.

Namun mirisnya, ia belum mampu membawa anaknya berobat ke rumah sakit swasta.

Sebab, biaya operasi yang tentunya capai puluhan sampai ratusan juta..

Kondisi yang dialaminya kini teramat menjepitnya, di samping sebagai orangtua yang tidak tahan melihat anaknya menahan rasa sakit.

Kini, bayi yang masih berusia 23 hari itu terbaring di rumahnya dengan perawatan ala kadarnya.

Tiada obat yang diberikan dari rumah sakit.

Anaknya mengidap penyakit tidak bisa buang air besar.

Sehingga harus melakukan operasi di bagian perutnya.

Kendati mendapatkan pelayanan yang tidak menyenangkan dari RSUD Pirngadi, Annisa mengaku tidak ingin membawa persoalan ini ke mana-mana dan pasrah terhadap keadaan yang ada.

Annisa pun berpesan dan berharap kepada seluruh pegawai RSUD Pirngadi untuk diajarkan jujur karena sudah disumpah sebagai dokter dan suster bahkan untuk pelayanan bukan administrasi didahulukan.

"Semoga kejadian yang saya alami tidak terjadi terhadap pasien lainnya," harapnya.

(cr8/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved