Hampir Penuh, Sampah di TPA Terjun Medan Menggunung hingga Puluhan Meter
Berbeda dengan gunung pada umumnya, gundukan setinggi puluhan meter ini merupakan tumpukan sampah yang sudah mengeras.
TRIBUN-MEDAN.COM - Pemandangan bukit-bukit menyerupai gunung terlihat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun, Kecamatan Medan Marelan.
Berbeda dengan gunung pada umumnya, gundukan setinggi puluhan meter ini merupakan tumpukan sampah yang sudah mengeras.
Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan, Muhammad Husni mengaku, saat ini kondisi TPA Terjun memang sudah hampir penuh.
Ia menuturkan, jika tidak ada penanganan yang tepat, maka sekitar tiga sampai empat tahun ke depan, TPA Terjun akan penuh.
"Ya melihat kondisi yang ada sekarang, sekitar tiga sampai empat tahun lagi tidak diolah akan terjadi stagnan di TPA Terjun," ujar Husni kepada tribun-medan.com, Kamis (29/4/2021).
TPA Terjun merupakan satu-satunya TPA yang secara operasional menampung seluruh sampah dari 21 Kecamatan yang ada di Kota Medan.
Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan pada tahun 2013, tumpukan sampah yang ada di TPA Terjun sudah mencapai 25 meter.
Amatan tribun-medan.com di lokasi, puluhan pemulung tampak ikut memilah sampah dan menjual kembali hasil pungutan sampah di TPA.
Sementara truk sampah hilir mudik setiap menit untuk mengangkut sampah ke TPA. Sebanyak dua ekskavator juga dioperasikan untuk menumpuk dan menyebarkan sampah di TPA.
Berdasarkan informasi yang dihimpun tribun-medan.com, TPA Terjun memiliki luas lahan 14 Ha dengan sistem pengelolaan sampah yang dilakukan yakni sistem open dumping.
Sistem open dumping adalah pengelolaan sampah yang dilakukan dengan cara pemerataan dan pemaparan sampah.
Sistem open dumping sudah tidak diperbolehkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup karena dampaknya tidak baik bagi Lingkungan. Di mana air lindih hasil pengelolaan sampah dapat mencemarkan tanah dan air di sekitar TPA dan banyaknya sumber penyakit yang disebarkan oleh lalat-lalat yang hinggap di TPA.
TPA Terjun menampung sedikitnya 1.460 ton per hari.
"Ada target bagaimana produksi sampah di masyarakat berkurang. Makanya targetnya dari sampah rumah tangga kita kelola dulu di tempat pemungutan sementara baru kita angkat ke TPA," kata Husni.
Ke depan, kata Husni, dalam rangka menyiasati kondisi stagnan yang akan dihadapi oleh TPA Terjun beberapa tahun mendatang, pihaknya akan melakukan pengelolaan sampah berbasis energi terbarukan.
"Di hilir (TPA) kita mulai melakukan penambangan dengan pola RDF, sampah itu dipilah berdasarkan kebutuhan kemudian diolah menjadi sebuah bahan baku nantinya, tuturnya.
"Pelan-pelan kita harapkan penambangan itu selesai secara bertahap di TPA Terjun dan Namobintang," tambahnya.
Husni menambahkan, pengadaan bank-bank sampah di beberapa wilayah juga diharapkan dapat meningkatkan ekonomi rakyat melalui pengelolaan sampah.
"Pemberdayaan ekonomi akan kita lakukan, karena akan ada klaster-klaster ekonomi berupa bank sampah di masyarakat nanti akan bertransaksi dengan perilaku sosial dan perilaku ekonomi," katanya.
Menurutnya, ada tiga pendekatan yang akan dilakukan Pemko Medan dalam mengejar target pengelolaan sampah lima tahun ke depan.
"Jadi tetap ada pendekatan pemberdayaan, pendekatan operasional dan pendekatan teknologi pada tiga segmen itu, nah ini akan kita coba. Makanya hari ini, bentuk frameworknya akan kita susun modelnya akan kita lakukan, SOP nya akan kita buat untuk memandu pengelolaan sampah Kota Medan yang 2.000 ton ini bagaimana agar terkelola secara sistemik," pungkasnya.
(cr14/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/para-pemulung-saat-sedang-mengumpulkan-sampah-di-tpa-terjun-dd.jpg)