Kisah Kristina Simatupang saat Diterjang Angin Puting Beliung: Tolong, Tolong, Enggak Tahan Lagi Aku

Atap rumah tradisional Batak tersebut terlihat terlepas dan masyarakat sekitar sebut seng tersebut beterbangan. 

Penulis: Maurits Pardosi |
MAURITS PARDOSI / TRIBUN MEDAN
Kristina boru Simatupang saat berada di rumahnya dan keluarga datang berikan penghiburan pada Selasa (20/4/2021).    

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – “Tolong, tolong, aku enggak tahan. Aku sendiri di rumah padahal angin kencang datang,” ujar Kristina boru Simatupang saat disambangi Tribunmedan.id pada Selasa (20/4/2021) di Desa Gasaribu, Kecamatan Lagu Kabupaten Toba. 

Terlihat teras rumah Kristina boru Simatupang kehabisan atap akibat angin kencang dan hujan es tersebut. Ia mengisahkan bahwa semua atap rumahnya diterbangkan angin. 

“Hujan es pun datang, sampai-sampai suara saat omong di rumah pun enggak kedengaran lagi. Itulah yang membuat saya semakin panik dan tak sanggup berkata apa,” ujarnya. 

Lanjutnya, ia hanya sanggup mondar-mandir di rumah saat angin kencang terjadi. Saat kejadian, anaknya tengah berada di luar rumah. Dengan demikian, ia hanya berharap pada Tuhan sambil melipat tangan. 

“Aku tak sanggup, aku mondar-mandir saja di rumah. Mau ke rumah tetangga pun aku tak bisa,” lanjutnya. 

Bukan hanya menerbangkan atap teras rumah, pohon yang berada di belakang rumahnya pun ikut tumbang. Ia juga menuturkan bahwa tetangganya juga mengalami kerusakan pintu dan jendela. 

Kejadian pada pukul 16.00 WIB tersebut membuat masyarakat sekitar menjadi trauma dan menyisakan ketakutan mendalam. Rumah tradisional Batak Toba yang ada di depan rumahnya pun ikut rusak.

Atap rumah tradisional Batak tersebut terlihat terlepas dan masyarakat sekitar sebut seng tersebut beterbangan. 

“Tetangga pun merasakan hal sama, pintu dan jendela mereka hancur akibat angin itu. Pohon juga tumbang di belakang rumah. Tapi untunglah, anakku cepat datang sehingga aku merasa tenang,” tuturnya. 

Karena kejadian tersebut, Kristina boru Simatupang disambangi keluarga. Mereka berkumpul dan saling menguatkan satu dengan yang lain.

Dalam tradisi Batak Toba, paman Kristina boru Simatupang melaksanakan kegiatan manjomput boras sipir ni tondi sebagai lambang penghiburan. 

“Maka kita di sini berikan beras sebagai peneguh rohnya agar roh dikuatkan setelah alami bencana. Beras ini merupakan tanda penghiburan bagi orang yang mengalami penderitaan,” lanjutnya. 

Terlihat beras diletakkan di atas kepala Kristina boru Simatupang. Setelah dikunjungi keluarganya ia merasa semakin bersemangat dan yakin menjalani hidup di hari mendatang. 

Sebanyak 47 rumah yang dinyatakan rusak, yang terdiri dari 25 rusak berat dan 22 rusak ringan. Terkait hal ini, pihak BPBD juga sampai mendirikan kamp agar bisa membantu masyarakat yang terdampak bencana tersebut. 

“Karena rumah  yang di kawasan Sigumpar Barat ambruk, kita sampai mendirikan tenda untuk membantu masyarakat yang rumahnya ambruk itu. Kita sangat prihatin melihat akibat bencana tersebut,” sambung Kepala BPBD Kabupaten Toba dr Pontas Batubara pada Selasa (20/4/2021). 

“Di sana kita sudah potong kayu yang menimpa rumah di sana. Satu hari ini, tim kita sudah berada di lapangan dan esok hari tim dari Dinas Sosial akan salurkan bantuan,” pungkasnya.

(cr3/tribun-medan.com) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved