Julius Raja Sebut Kebijakan Dini Kontak Belasan Pemain karena Ada Instruksi Pembina PSMS Medan

Manajemen PSMS Medan memutuskan untuk lebih dini melakukan kontrak pemain, meskipun sampai saat ini belum ada kepastian liga bergulir.

Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Sejumlah pemain PSMS Medan saat mengikuti latihan di Stadion Kebun Bunga, Medan, Rabu (17/3/2021). Skuat PSMS Medan terus melakukan latihan rutin untuk menjaga kondisi stamina pemain dalam persiapan jelang bergulirnya Liga 2. 

Laporan wartawan Tribun Medan Sofyan Akbar

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Manajemen PSMS Medan memutuskan untuk lebih dini melakukan kontrak pemain, meskipun sampai saat ini belum ada kepastian liga bergulir.

Ini menjadi pilihan manajemen agar mendapatkan pemain yang mumpuni untuk menjadikan skuat berjuluk Ayam Kinantan bisa menembus Liga 1 pada musim selanjutnya.

"Ini seperti berjudi juga karena belum tahu kapan kompetisi. Kita tetap mengikuti aturan dari pembina kita Pak Edy dan Pak Kodrat, ya kita jalankanlah. Sebagai pembina yang begitu semangat memikirkan PSMS masak kita yang kendur," kata Sekretaris Umum (Sekum) PSMS Medan Julius Raja, Sabtu (20/3/2021).

Pria yang akrab disapa King ini menjelaskan sampai saat ini belum diketahui secara pasti kapan liga bergulir.

Makanya, sambung King, pihak manajemen mengikat pemain dari sekarang.

"Kita mulai Maret, April dan Mei sudah ikat pemain. Jadi tidak ada istilah prakontrak supaya pemain tidak lari," terangnya.

Masih dikatakan King, jikapun nantinya pemain tersebut tidak datang latihan atau berlabuh ke klub lain, padahal sudah teken kontrak, maka manajemen sudah punya kekuatan hukum.

"Karena pemain tersebut sudah tandatangani perjanjian kontrak di atas materai dengan kita dan pemain sudah tanda tangan di atas kop surat PSMS dan menyatakan bersedia ikuti peraturan. Jadi sudah terikat, tidak bisa lari lagi," terangnya.

Baca juga: Ibu Rumah Tangga Kaget Ada Pria Kolor Kuning Menyelinap ke Kamarnya Tengah Malam, Begini Akhirnya

Baca juga: Kapolsek Medan Kota Irit Bicara Setelah Kelompok Berseragam Loreng Nyaris Saling Bunuh

Baca juga: Kisah Tragis Driver Ojol Tewas Bersimbah Darah, Tinggalkan 4 Anak dan Istri, Si Bungsu Baru 10 Hari

Bagaimana kalau kompetisi tidak bergulir?

Jika hal pahit itu terjadi, King mengatakan manajemen PSMS pasti rugi. Karena, sampai saat ini pihak manajemen masih memberikan uang transportasi kepada pemain yang melakukan latihan di Stadion Kebun Bunga setiap Senin, Rabu, dan Jumat.

"Begitu datang surat lagi bulan Juni dan menyatakan bahwa kompetisi tidak bergulir atau tidak jadi, berarti tim PSMS Medan bubarlah. Kita akan bubarkan tim," katanya.

Jikapun kondisi itu yang terjadi, King mengatakan, semua pihak akan rugi.

"Mana ada orang yang mengurus sepakbola tidak rugi. Kita mengurus bola ini harus mencurahkan tenaga, pikiran dan uang," ujarnya.

Apabila kompetisi tidak jalan, aku King, kerugian yang diterima manajemen tidak besar.

Karena,, pihaknya cuma memberikan dana transportasi kepada pemain.

"Kalau Juni jalan, syukur. Sekarang sepakbola kita ini panggung politik. Manajemen PSMS Medan sudah mau jalan dan memikirkan nasib para pemain, pelatih, dan official, tapi malah diganggu sama IDI, IPW dan ICW,” ujarnya.

Baca juga: Penjelasan Satpol PP Medan Terkait Video Viral Dobrak Rumah Bos Kardopa Grup, Sebut Tertibkan Prokes

Baca juga: VIRAL Driver Ojol Iwan Nainggolan Tewas Bersimbah Darah di Binjai, Ini Penjelasan Polisi

Kemungkinan mereka karena tidak mendapat bagi-bagi kue makanya meributi," imbuhnya.

Lebih lanjut, Julius Raja menuturkan, nasib pemain dan pelatih serta official untuk menyambung hidup di masa pandemi seperti sekarang ini perlu diperhatikan.

"Jadi jangan kita di sepakbola membuat sensasi yang berlebihan karena tidak senang sama seseorang. Jadi ya korban pelatih dan pemain serta orang-orang yang menggantungkan hidupnya di dunia sepakbola," ungkapnya.

King menyatakan bahwa dalam kompetisi liga ini nantinya pihaknya akan melakukan tanpa penonton tapi tetap saja tidak diberikan izin.

"Kita lihatlah, semua sepakbola di luar negeri berjalan, di Indonesia yang tidak. Kecuali kalau di luar negeri tidak jalan sepakbolanya dan kita jalan, itu yang harus dipertanyakan. Tapi ini nyatanya, cuma Indonesia yang tidak jalan sepakbolanya karena pandemi," kata King.

King mencontohkan, kompetisi sepak bola Malaysia dan Vietnam terus berjalan. "Kita lihat Liga Champions sudah masuk 8 besar. Kok sepertinya di sini kita seperti jeruk makan jeruk," ujarnya.

Akibatnya, aku King, kasihan keluarga pemain sepakbola yang menggantungkan hidupnya dari sepakbola.

"Ini yang kami lakukan pun banyak yang tidak senang. Kalau mau menyalahkan seseorang gampang. Tapi kalau koar koar banyak. Malah yang berkoar ini pula yang didengarkan. Kita sudah capek, kasihan Pak Edy, Pak Kodrat, Pak Mulyadi dan saya sendiri," pungkasnya.

(akb/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved