Ungkap Keresahan Terhadap Kerusakan Alam, Musisi Rani Jambak Kampanye Lingkungan Lewat Musik

Dirinya bisa menemukan makna hidup dan dapat menemukan pelajaran hidup dari setiap proses penggarapan setiap karya miliknya.

Kartika / Tribun Medan
Musisi Lokal Medan, Rani Jambak yang fokus mengampanyekan kelestarian lingkungan lewat musik. 

TRIBUN-MEDAN.com - 'My Musical Journey is My Spirit Journey' menjadi quote kehidupan musisi lokal Medan, Rani Jambak sejak mengenal dunia musik atau industri kreatif.

Bagi gadis berdarah Minang ini, melalui musik, dirinya bisa menemukan makna hidup dan dapat menemukan pelajaran hidup dari setiap proses penggarapan setiap karya miliknya.

"Musik sejauh ini sejak berkarir solo lebih seperti My musical journey is my spiritual journey, bagaimana musik itu bisa membantu aku menemui makna sebenarnya. Karena dari lagu yang aku buat aku temukan sesuatu dan banyak belajar yang juga banyak temukan hal di luar logika," ungkap Rani kepada tribun-medan.com, Sabtu (20/2/2021).

Sepulang dari Australia untuk meraih gelar magister di Macquarie University tahun 2018, Rani kemudian mulai mengeluarkan single seperti Nature (2018), Smoke Blanket (2019), dan The Eyes (2020).

Menariknya, hampir semua karya miliknya tidak terlepas dari konsep mengenai lingkungan. Rani bercerita bahwa ketertarikannya terhadap kampanye lingkungan berawal saat dirinya mengunjungi sebuah museum di Australia.

"Sebenarnya yang paling trigger itu waktu studi di Aussie 2017/2018 dan ada cerita tentang klan Gujimara yang misalnya mau makan masuk ke hutan ada telur tapi mereka tidak langsung ambil tapi masuk lagi cari lagi dan kalau ambil itu pun tidak semua sesuai keperluan mereka. Itulah cara gaya hidup suistanable living klan Gujimara. Ternyata dari dulu itu orang sudah peduli terhadap lingkungan tapi malah di zaman sekarang tidak seperti itu," tuturnya.

Dari situ Rani akhirnya mengeluarkan single yang hampir di semua konsep tidak terlepas dari kampanye terhadap lingkungan.

"Dari tahun 2018 aku launching lagu Nature yang bercerita tentang polusi plastik, kemudian 2019 aku launching smoke blanket tentang kebakaran dan tahun 2020 lalu aku launching lagu the eyes yang menceritakan tentang kekejaman manusia terhadap orang utan ataupun hewan liar. Aku ingin terus bersuara mengenai apa yang terjadi pada alam. Alam milik kita bersama," kata Rani.

"Ketika studi di Aussie itu merasa alamnya bagus, yang membuat paling indah karena sampah tidak kelihatan. Bayangkan alam di Indonesia tidak kalah cantik justru lebih beragam. Tapi sayangnya kita tidak punya kesadaran mengenai sampah. Klasik tapi masih menjadi masalah sosial," tambahnya.

Namun, Rani menegaskan bahwa karya miliknya tidak ingin dinilai untuk 'mengajarkan' melainkan untuk berbagi cerita dari yang ia alami dan rasakan.

"Apapun yang kita lakukan berkaca diri dulu. Setelah kita sadari satu hal, at least kita bisa berbagi dengan apa yang kita rasakan. Nah jadi bukan lebih ke menyadarkan orang tapi berbagi pengalaman," ucapnya.

Prestasi Rani tidak hanya berada di lingkup lokal, namun juga merambah ke internasional dengan melakukan kolaborasi bertajuk Sound of X yang digagas oleh Goethe-Institut Singapore dengan mengusung konsep soundscapes pada tahun 2020. 

Dalam project ini, Sound of Medan menjadi perwakilan Indonesia yang dilaunching serentak di 8 negara.

"Membuat musik dengan konsep soundscape ini bisa dibuat dari berbagai sumber, soundscape itu punya kekuatan berbeda karena kita berbicara keadaan sebenarnya," kata Rani.

Perjalanan musik Rani tidak hanya bercerita mengenai alam, namun juga mengusung konsep lagu berbau etnik. 

Diantaranya lagu Pak Ketipang Ketipung asal Melayu yang dibawakan secara hear catching yang kini terasa lebih modern tanpa meninggalkan unsur khas etnik tradisionalnya.

"Identitas budaya itu kesadaran timbul sejak kuliah S1 yang dominan teman-teman kuliah dominan orang Batak, Karo yang pakai bahasa ibu mereka. Sedangkan aku orang Minangkabau tapi tidak terlalu tahu tentang Minangkabau. Di seni musik sulit juga ketemu sesama suku, jadi dari situ lah cari tahu tentang sejarah Minangkabau. 

Semakin tertarik dengan apa yang kita punya. Kalau kita hanya ikut arus saja, kita tidak ada perbedaan dengan orang lain. Bagaimana kita bisa menonjol, yaitu dengan apa yang sudah kita punya dan kita kembangkan," pungkas Rani.

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved