Betsheba Simanjorang: Aku Ingin Merasakan Jadi Garda Terdepan di Wisma Atlet

Tapi aku tetap aja ingin merasakan rasanya jadi garda terdepan dan senang juga dengan tantangan baru aku berani saja.

TRIBUN MEDAN/HO
dr. Betsheba Elisabeth Simanjorang menjadi relawan untuk penanganan pasien Covid-19. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Pandemi Covid-19 menjadi ketakutan bagi banyak orang.

Namun ada banyak dokter yang terus berjuang untuk mendampingi dan merawat para pasien hingga sembuh dari virus Corona.

Tak sedikit diantaranya yang berstatus relawan.

Salah satunya dr. Betsheba Elisabeth Simanjorang yang tengah menjadi relawan di Wisma Atlet Jakarta.

Keinginan Betsheba menjadi relawan untuk penanganan pasien Covid-19, sudah ada sejak ia masih internsip di Malinau, Kalimantan Utara. Saat berdinas, tanpa sengaja ia kontak dengan salah satu pasien Covid-19.

Hal ini membuat perempuan kelahiran Medan ini harus menjalani isolasi selama dua pekan. 

"Ada pasien yang masuk ke rumah sakit, kami enggak tahu dia positif Covid-19. Sementara kan APD terbatas. Jadi para petugas yang kontak, harus diisolasi. Tapi karena diisolasi aku semakin menggebu-gebu ingin tahu bagaimana penanganan Covid-19 ini sebenarnya apalagi yang dilakukan secara masif seperti di Wisma Atlet," katanya. 

"Sebenarnya di RS tempat internsip, ada ruangan khusus pasien Covid-19. Tapi karena kami masih internsip, enggak bisa masuk. Aku lihat di sana yang pasien Covid-19 nya itu masih terhitung jari, penanganannya sudah seheboh itu. Gimana yang di Wisma Atlet yang pasiennya sebanyak itu," lanjutnya 

Selain itu, dirinya ingin tahu bagaimana rasanya jadi garda terdepan.

Baca juga: POPULER di TRIBUN MEDAN: dr Andhika di Mata Sejumlah Dokter di Medan, Relawan Covid-19 Meninggal

Meski ia tak memungkiri risiko yang sangat berat mengingat tak sedikit tim medis yang tertular virus Corona.

"Tapi aku tetap aja ingin merasakan rasanya jadi garda terdepan dan senang juga dengan tantangan baru aku berani saja. Apalagi sebelumnya aku sudah pernah menjadi relawan dalam bakti sosial untuk bencana alam. Seperti di Erupsi Gunung Sinabung dari Polda Sumatera Utara lalu ikut lagi dari Komunitas Medik Katolik Indonesia (KMKI)," lanjutnya. 

Terhitung sudah lebih dari dua bulan Betsheba menjadi relawan di Wisma Atlet.

Diakuinya proses hingga diterima menjadi relawan juga tak mudah. Mulai dari pendaftaran, wawancara, hingga Medical Check Up (MCU) harus dilalui. 

"Jadi enggak langsung bisa diterima. Tunggu proses lagi. Aku sudah kedua kali daftar baru diterima. Pertama aku daftar di Agustus tapi enggak masuk. Namun keinginanku untuk jadi relawan di Wisma Atlet itu masih ada," katanya. 

dr. Betsheba Elisabeth Simanjorang bersama rekan-rekan dokter saat bertugas.
dr. Betsheba Elisabeth Simanjorang bersama rekan-rekan dokter saat bertugas. (TRIBUN MEDAN/HO)

Setelah pendaftaran relawan dibuka lagi, ia dipanggil interview meski kali ini tidak mendaftar. Ternyata Oktober aku diundang ulang untuk interview online. 

"Dokter itu kan tugas mulia, makanya salah satu cara untuk menerapkannya, aku ingin menjadi relawan. Soal risiko, yang aku tau pasti Alat Pelindung Diri (APD) di Wisma Atlet pasti terjamin. Setelah interview, langsung pengumuman aku lulus, besoknya langsung berangkat ke Jakarta," katanya. 

Dikatakannya, orang tuanya tak langsung menyetujui kepergiannya ke Jakarta. Namun dengan penjelasan tepat, orang tuanya berusaha memahami keputusannya. 

"Awal aku interview di Agustus, sebenarnya orang tuaku setuju saja. Tapi mungkin setelah enggak diterima dan mereka pikir pikir, ya apa yang aku kerjakan bahaya juga. Mereka bilang untuk apa sih menyerahkan diri saat semua orang menjauhkan diri dari virus itu. Tapi aku coba kasih pengertian lah sama orang tua supaya mereka juga bisa mengerti," katanya. 

Baca juga: Jumlah OTG Masih Banyak di Medan, Satgas Covid-19 Imbau Cegah Penularan dengan 3M

Di sana, dokter dibagi per tim. Satu tim bisa 40 sampai 50 dokter dibagi ke berbagai tower yang ada di Wisma Atlet. Lalu dibagi tiga shift pagi, siang, dan malam. Satu dokter bertugas jaga tiga lantai, dimana satu lantai bisa 50 sampai 60 pasien.

"Kita setiap turun observasi semua pasien, kita lihat juga bagaimana sistem imun tubuhnya. Lalu kami juga mendampingi pemeriksaan untuk tanda vital, penciuman pasiennya apakah sudah membaik, selain itu juga kita juga memberikan motivasi. Kita ingatkan agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Pasiennya juga berjemur di pagi hari, kalau sore ada juga yang olahraga," tuturnya. 

Dikatakannya dalam penanganan pasien Covid-19, harus ditingkatkan imun tubuhnya. Untuk itu dalam sesi edukasi dan motivasi, para dokter selalu menenangkan pikiran pasiennya satu per satu. 

"Jadi kami selalu bilang ke pasiennya agar anggap aja sedang liburan. Enggak perlu khawatir yang lainnya karena kalau semakin cemas, kita kasih obat, obatnya juga enggak akan berfungsi dengan baik kalau sudah stres sendiri," katanya. 

Ia mengatakan virus ini akan lebih berbahaya jika pasien memiliki penyakit penyerta. Jika ada pasien yang memiliki keluhannya berat dan enggak bisa ditangani oleh pasien umum akan dikonsultasikan kepada dokter spesialis.

"Jadi memang kita perhatikan pasien itu secara menyeluruh. Keadaan pasien itu jadi tanggung jawab kita," katanya. 

Dikatakannya, selama bertugas, para dokter harus memakai dua lapis masker. Lalu lapisan pertama harus di plester rapat. Setelah itu pakai masker surgical dan di plaster juga. Selain itu pakai head cap (tutup kepala). Setelah terpasang itu semua di plaster biar tidak ada celah udara sedikit pun. 

dr. Betsheba Elisabeth Simanjorang menjadi relawan untuk penanganan pasien Covid-19 di Wisma Atlet.
dr. Betsheba Elisabeth Simanjorang menjadi relawan untuk penanganan pasien Covid-19 di Wisma Atlet. (TRIBUN MEDAN/HO)

"Jadi di plester di daerah hidung, mulut, dan pakai baju hazmat yang di plester juga dari pinggir pipi. Awal aku pakai itu rasanya sesak sekali. Aku awalnya pikir bisa dilepas sesekali ternyata enggak. Makanya kita diwajibkan pakai pampers untuk buang air kecil. Karena kalau ditahan takutnya malah kena infeksi saluran kemih," katanya. 

Untuk itu selama satu sampai dua jam sebelum dinas, kami enggak dianjurkan untuk minum. Jadi selama total sekitar delapan sampai sembilan jam para petugas medis tidak makan dan minum selama dinas. 

"Itu bagi yang sanggup. Tapi kalau aku sebelum dinas wajib minum banyak karena enggak sanggup juga. Aku takut dehidrasi karena kalau sedang memakai APD lengkap sebenarnya sesak. Ada lagi handscoon dua lapis, pakai pelindung kaki dua lapis, lalu pakai sepatu boot lagi. Setelah itu pakai face shield lagi," katanya.  

"Apalagi kalau lagi edukasi pasien, ngomong satu per satu. Jadi terasa sekali, setelah dinas pasti baju juga basah. Tapi dengan banyaknya pasien, delapan jam itu enggak terasa," lanjutnya. 

Dikatakannya ada berbagai unit di Wisma Atlet. Pasien awalnya masuk ke triase penerimaan pasien, didata ulang, lalu masuk ke IGD untuk observasi pertama. Kalau pasien membludak hingga puluhan orang, ini bisa membuat situasi chaos karena jumlah dokter yang terbatas. 

"Untuk pasien yang memiliki penyakit penyerta dan mengalami penurunan pernapasan. Itu yang nanti harus benar-benar kita perhatikan," katanya.

Sedih dan Kesal

Melihat banyaknya masyarakat yang belum peduli dengan protokol kesehatan, Betsheba mengatakan ada rasa kesal dan sedih. Jika ada kesempatan, ia ingin bisa berbincang dengan masyarakat yang belum percaya dengan pandemi ini. 

"Bukan menghitung pekerjaan ya, di sini untuk bertemu pasien saja kami harus pakai APD lengkap untuk merawat pasien. Tapi di luar sana orang-orang acuh tak acuh dengan Covid-19 yang memang nyata ini," katanya. 

Dirinya berharap masyarakat bisa lebih peduli dengan protokol kesehatan. Terlepas dari percaya atau tidak dengan angka pasien positif yang ada, masyarakat harus lebih peduli setidaknya dengan kesehatannya sendiri. 

"Aku selalu mau bertanya, apa sih susahnya pakai masker setiap saat, selalu membawa hand sanitizer, dan mematuhi protokol kesehatan? Ada lagi yang bilang Covid-19 ini hanya data dan angka. Di Wisma Atlet ini nyatanya semua angka itu real," katanya. 

"Mau percaya atau enggak sama data, yang penting kesadaran masing-masing saja dulu. Tetap jaga kesehatan, tolong bantu dirimu dan kami para dokter untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Kita harus bersama berperang dan harus menang melawan virus corona," pungkasnya.(sep/tribun-medan.com)

BIOFILE

Nama : dr. Betsheba Elisabeth Simanjorang 
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 28 Januari 1994

Karier: Dokter Umum & Volunteer Radio Maria Indonesia

Pendidikan: 
S1 Kedokteran
Profesi Dokter

Prestasi: 
- Koordinator Internship Batch III Provinsi Kalimantan Utara Periode 2019-2020.
- Relawan Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Altet Tahun 2020

Orangtua: H Simanjorang (Ayah)/S. Sihombing (Ibu)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved