Kasus Penipuan Arisan Online Banyak Korban, Tetapi Tetap Diminati, Ini Kata Psikolog
Apalagi ketika mereka beranggapan profil adminnya cukup meyakinkan, Sarjana Psikologi dan peserta Indonesian Idol
Penulis: Liska Rahayu | Editor: Salomo Tarigan
Laporan Wartawan T r ibun-Medan.com/Liska Rahayu
T R IBUN-MEDAN.Com, MEDAN -
Psikolog Irna Minauli menilai arisan awalnya dibentuk sebagai suatu cara untuk menabung dalam waktu tertentu.
Arisan ini dibentuk atau dilakukan oleh sekelompok orang yang biasanya saling mengenal sehingga trust atau kepercayaan dapat terbentuk.
Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan teknologi maka dikembangkan arisan online yang kemungkinan antaranggota tidak saling mengenal, demikian pula dengan pengelolanya.
Akibatnya, risiko terjadinya penipuan menjadi lebih besar.
"Meskipun sudah banyak diberitakan tentang penipuan jenis ini namun anehnya masih banyak saja orang yang tertarik untuk mengikuti arisan ini," katanya, Senin (14/9/2020).
Secara psikologis, mereka yang ikut adalah orang yang memiliki harapan yang tidak realistis dalam menginvestasikan uang yang dimilikinya.
Dijelaskannya, ketika kesulitan untuk mendapatkan sumber pemasukan lain, maka tawaran-tawaran investasi yang tidak masuk akal menjadi suatu hal yang menggiurkan.
Dalam kondisi penuh pengharapan ini, biasanya orang menjadi sangat mudah dipengaruhi (suggestible). Terlebih ketika ada kenalannya juga ikut dalam arisan tersebut.
Mereka biasanya menggunakan referensi dari orang-orang tertentu sehingga tertarik untuk mengikuti arisan ini.
"Selain itu, para pelaku (penipu) biasanya mampu mensugesti para anggotanya dengan memberikan benefit seperti yang ada dalam perjanjian. Umumnya mereka hanya memutar dana yang ada sehingga pada tahap awal masih bisa membayarkan," jelasnya.
Namun kemudian, sejalan dengan waktu, mereka (pembuat arisan online) mulai kewalahan untuk membayarkannya. Terlebih jika mereka menggunakan dananya untuk investasi lain yang juga “bodong”.
Dengan demikian seperti halnya MLM (multilevel marketing), mereka mencoba mengumpulkan dana dari para anggotanya untuk diinvestasikan pada usaha lain yang lebih besar.
"Bisnis seperti ini sepertinya tetap selalu ada karena banyak orang yang mulai kehilangan akal untuk memperoleh penghasilan tambahan," ujarnya.
Keinginan untuk segera memperoleh hasil juga menjadi salah satu ciri dari para peserta arisan model ini atau jenis investasi “bodong” lainnya.
Mereka tidak cukup sabar menunggu hasil dari bunga atau saham di lembaga resmi. Di sisi lain mereka juga tidak berani gambling untuk menanam modalnya untuk berdagang karena takut rugi dan merasa tidak cukup punya kemampuan.
"Kombinasi antara harapan yang tidak realistis serta keinginan untuk segera memperoleh hasil inilah yang mendorong orang mengikuti bisnis seperti ini," jelasnya.
Anehnya, ketika para pengikut arisan online sudah pernah mendengar kasus penipuan sebelumnya, namun ada semacam mekanisme pertahanan diri berupa “denial” atau penyangkalan.
Hal ini menyebabkan mereka beranggapan bahwa yang tertipu itu karena mereka bodoh atau tidak kenal dengan adminnya.
Mereka beranggapan bahwa mereka tidak mungkin akan tertipu. Kondisi penyangkalan ini juga yang membuat anggota keluarga lain tidak bisa mencegah mereka untuk tetap mengikuti arisan online ini.
"Apalagi ketika mereka beranggapan profil adminnya cukup meyakinkan, Sarjana Psikologi dan peserta Indonesian Idol," pungkasnya.
• Akhirnya Kamar Diduga Tempat Mayat Ditanam Dibongkar Petugas dan Warga, Heboh Tanjung Sari Medan
(yui/T R IBUN-MEDAN.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/psikolog-irna-minauli-1.jpg)