Kasatpol Medan PP Sofyan Cerita Penggusuran, Sebenarnya tak Sampai Hati Namun Harus Profesional

Hati sama perasaannya kita kesampingkan dulu, harus profesional tolong itu dimaknai sebagai suatu hal yang kami korbankan

Editor: Salomo Tarigan
T R I B U N MEDAN/Gita Tarigan
Kasatpol PP M Sofyan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/7/2020). 

T R I B U N-MEDAN.com -  Jika secara hati, bertentangan dengan perasaan.

Begitulah penuturan Kasatpol PP Kota Medan M Sofyan saat berbicara soal penggusuran.

M Sofyan sudah delapan tahun bertugas di Satpol PP kota Medan.

Ia mengaku, sebenarnya setiap kali bersentuhan dengan masyarakat untuk melakukan penertiban (penggusuran) kerap kali bertentangan dengan hatinya.

Namun, dia dan tim lain harus tetap melakukannya, karena harus profesional.

"Tentunya yang saya dan yang kami rasakan di satuan ini adalah sesuatu yang sebetulnya bertentangan dengan hati, bertentangan dengan perasaan. Kalau secara hati dan perasaan sebetulnya kita tidak memiliki ketegaan untuk melakukan itu, namun karena yang kami lakukan itu adalah merupakan tugas dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat dan ketertiban umum, mau tidak mau, suka tidak suka itu harus kami lakukan," katanya kepada t r i b u n-medan.com, Selasa (21/7/2020).

Ia mengatakan harus mengesampingkan rasa 'tidak tega' tersebut demi menjalankan amanah.

"Saya tegaskan kalau secara hati saya selalu bilang mungkin hati saya lebih lembut dari pada hati ibu dan Bapak. Namun karena ini tugas jadi terpaksa sementara ini saya menyampingkan hati dan perasaan saya, nanti kalau bapak ibu ke kantor untuk mengambil barang-barang yang saya amankan tentunya di situ juga saya akan menggunakan hati dan perasaan saya, barang-barang Ibu nanti saya kembaliin tetapi dengan tata cara yang ada. Jadi sebetulnya bertentangan dengan hati dan perasaan namun karena itu memang tugas ya wajib," katanya.

Dikatakannya menyampingkan perasaan dalam bekerja adalah bagian dari pengorbanan.

Ia merasa wajar apabila muncul presepsi lain di masyarakat, ia mengatakan tidak pernah menyahkan hal tersebut.

"Hati sama perasaannya kita kesampingkan dulu, harus profesional tolong itu dimaknai sebagai suatu hal yang kami korbankan untuk kepentingan yang lebih besar, sepertinya kok kita nggak punya hati nih nggak punya perasaan tapi apa boleh buat kita berkorban untuk kepentingan yang lebih yang jauh," katanya.

Meski demikian Sofyan merasa koreksi yang diberikan masyarakat kepadanya maupun tim yang bertugas di lapangan sangat berguna.

Sofyan mengakui bahwa ia juga manusia yang tidak luput dari kesalahan, sehingga istilah-istilah yang sering ia dengar dari masyarakat dianggap sebagai koreksi diri dan kinerja.

"Kalau masyarakat masih ingatkan, itu bisa menjadi koreksi atau intropeksi dalam diri saya sehingga saya bisa mengkoreksi mengevaluasi diri saya karena sesungguhnya saya dan rekan di sini kan juga manusia.

Yang tidak terlepas dari kesalahan. Jadi kalaupun saya ada melakukan satu kesalahan saya kira itu karena saya juga manusia dan terhadap apa-apa yang diistilahkan masyarakat ke saya dan kami di satuan ini, itu saya rasakan sebagai sesuatu yang positif, sebagai kontrol," ucapnya.

Sebagai salah satu ASN yang mengkuti seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) untuk jabatan Asisten Pemerintahan dan Sosial Sekretariat Daerah Kota Medan, Sofyan mengaku tetap optimis dan siap mengikuti semua tahap seleksi.

"Saya tetap optimis dalam semua hal, terutama dalam bekerja, namun saya tidak percaya diri yang berlebihan ya, kalau rasa percaya diri saya semua orang wajib memiliki itu," katanya.

(cr21/t r i b u n-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved