Disiplin Berinvestasi Kunci Wujudkan Mimpi

ewujudkan mimpi-mimpi dalam hidup, seperti bebas keuangan, punya rumah sendiri, mobil, anak bersekolah tinggi, dan lain-lain,

Hasan Sakri
Kelulusan mahasiswa tahun 2020 terpaksa dilakukan online akibat pandemi Covid-19. Namun itu tak menyurutkan semangat mereka meraih mimpi. Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana juga mengatakan semua orang bisa mencapai mimpinya dengan disiplin dalam berinvestasi. 

https://tribunmedan.cfd, MEDAN –  Mewujudkan mimpi-mimpi dalam hidup, seperti bebas keuangan, punya rumah sendiri, mobil, anak bersekolah tinggi, dan lain-lain, bukanlah sesuatu yang mustahil terpenuhi. Disiplin dalam berinvestasi merupakan cara paling efektif agar sukses mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan banyak ragam kedisiplinan dalam berinvestasi. Salah satunya adalah disiplin berinvestasi secara berkala, tidak hanya sebagai sarana menabung. “Lainnya adalah disiplin menentukan tujuan keuangan,” ujarnya.

Dengan menentukan dan fokus pada tujuan keuangan, maka Anda akan terhindar dari pengeluaran-pengeluaran bersifat konsumtif yang hanya akan memperlambat untuk mencapai tujuan keuangan.  Selanjutnya, tentukan terlebih dahulu tujuan investasi, profil risiko dan jangka waktu investasi. Dengan mengetahui ketiga hal di atas, maka Anda dapat memilih kelas aset yang tepat.

Ketahui terlebih dahulu jangka waktu investasi juga perlu dilakukan, kemudian buatlah budget pengeluaran rutin setiap bulan. Ini untuk memastikan kemampuan menyisihkan pendapatan untuk pos investasi. “Kami juga sangat menyarankan investor untuk menghindari utang-utang bersifat konsumtif seperti kartu kredit maupun KTA (kredit tanpa agunan),” tandasnya.

Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya menambahkan, hal terpenting agar bisa berinvestasi adalah dengan menerapkan pengaturan keuangan ideal 50:30:20, di mana 50% pendapatan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk melunasi cicilan dan 20% investasi. “Terapkan mindset investasi dahulu baru kemudian konsumsi,” ujarnya.

Ivan menjelaskan, usia 20-an adalah waktu yang tepat melakukan persiapan dalam mewujudkan mimpi keuangan di masa mendatang. Berinvestasi di usia 20-an memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam menentukan instrumen investasi dan mendapatkan hasil yang lebih optimal. Sebagai contoh, jika tujuan keuangan kita memiliki dana Rp1 miliar pada usia 55 tahun, berapa nominal yang harus kita investasikan? Dengan asumsi inflasi 4% per tahun, potensi imbal hasil 10% per tahun, dan asumsi profil risiko kita agresif dengan rekomendasi portofolio di reksa dana saham 60%, reksa dana pasar uang 15%, dan reksa dana pendapatan tetap 25%, untuk yang berusia 25 tahun butuh investasi Rp1 juta per bulan yang dilakukan dari usia 25 – 55 tahun. Sedangkan untuk yang berusia 35 tahun, butuh investasi Rp2,17 juta per bulan yang dilakukan dari usia 35 – 55 tahun jika ingin memiliki dana Rp1 miliar di usia 55 tahun.

Menurut Ivan, pilih instrumen investasi sesuai dengan tujuan investasi dan juga profil risiko, monitor portofolio investasi, disiplin dan fokus pada tujuan, serta memiliki asuransi dan dana darurat sehingga jika ada keadaan darurat tidak mengganggu portofolio investasi.

Soal pilihan investasi yang sesuai tujuan investasi, Ivan menjelaskan, reksa dana pasar uang 100%  berinvestasi di instrumen pasar uang seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Deposito Berjangka, dan Obligasi yang memiliki jatuh tempo di bawah 1 tahun. Hal ini membuat reksa dana pasar uang memiliki tingkat risiko yang konservatif dan sangat likuid “Cocok bagi investor pemula, investor dengan tujuan investasi jangka pendek serta investor yang ingin menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal,” bebernya.

Reksa dana saham merupakan reksa dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dalam bentuk efek bersifat ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham, maka risikonya lebih tinggi namun berpotensi menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi. “Dengan membeli reksa dana saham berarti investor memiliki eksposur kepada banyak saham dengan modal yang jauh lebih sedikit dibandingkan jika investor membeli saham langsung,” jelasnya. Ini cocok bagi investor dengan tujuan investasi jangka panjang serta investor dengan profil risiko agresif.

Sebaiknya, menurut Ivan, investor memiliki keduanya pada portofolio mereka. Reksa dana pasar uang untuk pemeliharaan modal serta memenuhi tujuan investasi jangka pendek dan reksa dana saham untuk tujuan investasi jangka panjang serta potensi tingkat pengembalian yang tinggi terutama dengan valuasi murah di saham saat ini.

Ivan menyebutkan bahwa instrumen investasi reksa dana memiliki banyak manfaat yang bisa didapatkan. Di antaranya adalah jumlah investasi yang terjangkau, dikelola oleh profesional, likuid, potensi imbal hasil yang menarik serta diatur dan diawasi oleh regulator. “Pembeliannya juga sangat mudah. Dalam kondisi pandemik dimana berlaku social distancing, pembelian reksa dana bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja hanya melalui smartphone,” tandasnya.

Ivan menegaskan, idealnya kita tidak hanya memiliki satu macam instrumen investasi saja. Portofolio investasi sebaiknya dibagi menjadi beberapa instrumen berbeda, disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dan profil risiko. Diversifikasi investasi juga berguna untuk meminimalisir risiko.

Jika jangka waktu kurang dari 1 tahun, instrumen investasi yang cocok adalah deposito dan reksa dana pasar uang. Jenjang 1 – 3 tahun, reksa dana pendapatan tetap, ORI, dan SUKRI. Lalu kalau jangka waktunya 3 -5 tahun bisa memilih reksa dana campuran, obligasi jangka pendek-menengah. Dan di atas  5 tahun maka pilihan yang tepat adalah reksa dana saham. (rie)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved