VIRAL Driver Ojol Mendadak Terjungkal dari Motor, Terkapar di Jalan dan Kejang-kejang

Seorang driver ojek online (ojol) terkapar di tengah jalan dan kejang-kejang membuat heboh warga Kota Binjai.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Dedy Kurniawan
Seorang driver ojek online (ojol) terkapar di tengah jalan di sekitaran Pujasera, Lapangan Merdeka Kecamatan Binjai Kota, Rabu (6/5/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan

TRI BUN-MEDAN.com, BINJAI - Seorang driver ojek online (ojol) terkapar di tengah jalan dan kejang-kejang membuat heboh warga Kota Binjai.

Pria tersebut mendadak terjungkal dari motornya di sekitaran Pujasera, Lapangan Merdeka, Kecamatan Binjai Kota, Rabu (6/5/2020).

Begitu jatuh, driver ojol itu sempat kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan buih.

Kejadian ini sempat diabadikan warga sekitar yang merekam video berdurasi 13 detik, dan viral di media sosial (medsos) setelah diunduh di Facebook Andi Kurniawan Sitepu.

Dalam tempo singkat hitungan jam, video itu sudah dibagikan ratusan kali.

BREAKING NEWS, TERUNGKAP Zuraida Hanum Coba Sogok Mantan Sopir Rp 100 Juta Supaya Mencabut BAP

BREAKING NEWS, Lonjakan Baru Pasien Positif Covid-19 di Sumut, Pasien Meninggal Bertambah 2 Orang

Terus Didesak Untuk Membunuh Hakim Jamaluddin, Saksi Liber Hutasoit Pura-pura Ditangkap Polisi

Kapolsek Binjai Kota, Kompol Aris Fianto ketika dikonfirmasi membenarkan ada seorang pria driver ojol tiba-tiba jatuh dari kendaraannya.

Adapun identitasnya belakangan diketahui berinisial OB (40) warga Kelurahan Kartini.

"Kondisi pengemudi ojol sudah membaik. Hasil keterangan sementara, kumat penyakit epilepsinya hingga mengeluarkan buih.

Setelah kurang lebih 5 menit tergeletak pengemudi tersebut kembali sadar.

Setelah itu warga menolongnya dan membawanya ke tepi jalan," kata Kapolsek.

Sementara itu, di medsos beragam komentar dihiasi pertanyaan keadaan driver ojol yang terbaring di tengah jalan.

Warga lain berkomentar dan mengaitkan dengan wabah Covid-19 yang sedang melanda skala global.

"Mungkin kumat itu penyakit sawannya, makanya kejang-kejang, atau sakit ayan. Kalau Corona gak gitu gejalanya," tulis seorang pengguna medsos.

Polisi Ancam Tembak Ferdian Paleka, Jika Tak Segera Menyerahkan Diri Secara Baik-baik?

Apa itu Epilepsi?

Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal hingga menyebabkan kejang atau periode perilaku tidak biasa, sensasi, dan kadang-kadang pingsan.

Gangguan kesehatan tersebut bisa dialami oleh siapa pun, baik pria maupun wanita dari semua ras, latar belakang etnis, dan usia.

Melansir Mayo Clinic, gejala kejang pada epilepsi bisa sangat bervariasi.

Beberapa orang dengan epilepsi hanya menatap kosong selama beberapa detik saat kejang, sementara yang lain bisa sampai berulang kali menggerakkan lengan atau kakinya.

Memiliki kejang tunggal tidak berarti seseorang menderita epilepsi. Setidaknya dua kejang yang tidak diprovokasi, baru diagnosis sebagai epilepsi.

Gejala Epilepsi

Karena epilepsi disebabkan oleh aktivitas abnormal di otak, kejang dapat memengaruhi aktivitas apa pun yang dikoordinasikan otak.

Tanda dan gejala saat kejang, di antaranya yakni:

  • Kebingungan sementara
  • Mata menatap kosong
  • Gerakan menyentak lengan dan kaki yang tak terkendali
  • Hilangnya kesadaran
  • Gejala psikis seperti ketakutan, kecemasan atau deja vu

Gejala epilepsi pada dasarnya bisa bervariasi tergantung pada jenis kejangnya. Dalam kebanyakan kasus, seseorang dengan epilepsi akan cenderung memiliki tipe kejang yang sama sehingga gejalanya akan serupa saat kambuh.

Dokter umumnya mengklasifikasikan kejang sebagai fokus atau generalisasi, berdasarkan pada bagaimana aktivitas otak yang abnormal dimulai.

Jenis epilepsi

1. Kejang parsial

Ketika kejang muncul akibat aktivitas abnormal hanya di satu area otak, hal itu bisa disebut kejang fokal atau kejang parsial. Kejang ini terbagi dalam dua kategori, yaitu:

Kejang parsial tanpa kehilangan kesadaran.

Sesuai namanya, kejang ini tidak menyebabkan pingsan. Kejang hanya mengubah emosi atau kemampuan pancaindra seperti untuk mencium, merasakan sentuhan dari luar, termasuk soal suara.

Kejang parsial juga dapat memiliki gejala berupa sentakan bagian tubuh yang tidak disengaja, seperti pada lengan atau kaki. Bukan hanya itu, kejang ini bisa menimbulkan gejala sensorik spontan, seperti kesemutan, pusing dan lampu yang berkedip-kedip

Kejang parsial dengan kesadaran terganggu atau bisa disebut juga dengan kejang parsial kompleks.

Selama terjadi kejang parsial kompleks, seseorang biasanya tidak bisa merespons secara normal rangsangan dari luar.

Mereka juga tak bisa melakukan gerakan berulang, seperti menggosok tangan, mengunyah, menelan atau berjalan dalam lingkaran.

Gejala kejang parsial diketahui dapat dikacaukan dengan gangguan neurologis lainnya, seperti migrain, narkolepsi, atau penyakit mental.

Untuk membedakan epilepsi dari gangguan lain, diperlukan pemeriksaan dan pengujian menyeluruh oleh tenaga medis.

2. Kejang umum

Kejang yang melibatkan semua area otak disebut kejang umum.

Kapan harus ke dokter?

Seseorang dengan epilepsi dianjurkan segera mendatangi dokter jika mengalami gejala sebagai berikut:

  • Kejang berlangsung lebih dari lima menit
  • Pernapasan atau kesadaran tidak kembali setelah kejang berhenti
  • Kejang kedua segera terjadi
  • Mengalami demam tinggi
  • Mengalami kelelahan
  • Sedang hamil
  • Menderita diabetes
  • Penderita telah melukai diri sendiri selama kejang
  • Kejang untuk pertama kalinya

Penyebab epilepsi

Melansir Health Line, penyebab epilepsi pada 6 dari 10 orang penderita tidak dapat ditentukan. Dengan kata lain, penyebab gangguan ini sulit diketahui secara pasti.

Namun, beberapa hal berikut mungkin termasuk faktor yang dapat membuat seseorang mengalami kejang karena epilepsi:

  • Cedera otak traumatis
  • Jaringan parut pada otak setelah mengalami cedera otak (epilepsi pasca-trauma)
  • Penyakit serius atau demam tinggi
  • Stroke adalah penyebab utama epilepsi pada orang di atas usia 35
  • Penyakit pembuluh darah lainnya
  • Kekurangan pasokan oksigen ke otak
  • Tumor atau kista otak
  • Demensia atau penyakit Alzheimer
  • Penggunaan obat tertentu
  • Cedera prenatal
  • Malformasi otak
  • Kekurangan oksigen saat lahir
  • Penyakit menular seperti AIDS dan meningitis
  • Kelainan genetik atau perkembangan atau penyakit neurologis

Keturunan memainkan peran juga dalam beberapa jenis epilepsi. Umumnya, ada kemungkinan 1 persen seseorang dapat mengembangkan epilepsi sebelum usia 20 tahun.

Namun, jika seseorang memiliki orang tua dengan epilepsi, risiko mereka menderita epilepsi bisa meningkatkat jadi 2 hingga 5 persen.

Faktor genetika tersebut juga dapat membuat beberapa orang lebih rentan terkena serangan epilepsi dari pemicu lingkungan. Epilepsi dapat berkembang pada usia berapa pun. Namun, diagnosis biasanya terjadi pada anak usia dini atau setelah usia 60 tahun.

(Dyk/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved