Hakim Beri Sindiran Menohok ke Dzulmi Eldin, Sebut Wali Kota Miskin

Majelis Hakim memberikan sindiran menohok dalam sidang lanjutan dugaan suap Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin, yang digelar secara online, Senin.

TRIBUN MEDAN/ALIF ALQADRI HARAHAP
Sejumlah saksi memberi keterangan pada sidang lanjutan dugaan suap Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin, yang digelar secara online, Senin (20/4/2020). 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Majelis Hakim memberikan sindiran menohok dalam sidang lanjutan dugaan suap Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin, yang digelar secara online, Senin (20/4/2020).

Seorang anggota majelis hakim, Ahmad Sayuti, menyebutkan bahwa Dzulmi Eldin adalah wali kota yang miskin.

Karena itulah, sejumlah kepala dinas memberikan sumbangan untuk Dzulmi Eldin.

Sindiran menohok itu dilontarkan hakim Ahmad Sayuti, di hadapan tujuh orang saksi yang memberikan keterangan di PN Medan.

Di antara para saksi itu, terdapat Syamsul Fitri (berkas terpisah) dan Isa Ansyari yang sudah dvionis dua tahun, dalam kasus yang sama.

Selain itu, terdapat beberapa kepala dinas dan Sekretaris Dinas yang hadir di persidangan tersebut. Salah satunya adalah Suherman selaku Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan.

Hakim Anggota Ahmad Sayuti mencecar Suherman terkait alasannya memberikan uang kepada Wali Kota Dzulmi Eldin.

Suherman pun dengan enteng menjawab karena loyalitas terhadap atasan.

Namun, jawaban itu dipatahkan langsung oleh Hakim Sayuti. Ia menekankan, bahwa uang yang diberikan tidaklah sedikit. Totalnya mencapai ratusan juta rupiah.

"Itu bukan sedikit uang yang kamu beri, kamu loyal atau ada maksud lain?" tanya Hakim Sayuti.

Duherman pun bersikukuh menjawab loyalitas, dan karena kebutuhan atasan.

"Ada tugas kamu memenuhi biaya operasional itu?" tanya hakim lebih lanjut.

"Kamu berapa kasih uang ke Wali Kota?" kejar hakim kepada Suherman.

"Dua ratus juta pak," jawab Suherman.

Mendengar jawaban itu, hakim Sayuti semakin heran sehingga mempertanyakan gaji bulanan kepala Dinas Pendapatan tersebut.

"7 juta pak," jawab Suherman.

Jawaban itu membuat Hakim Sayuti semakin heran. Ia pun memberi sindiran pedas terhadap Dzulmi Eldin atas uang-uang yang diberikan kepala dinas.

"Kalau 10 atau lima juta, itu adalah hal yang masih bisa masuk diakal, tapi ini Rp 200 juta? Tapi iyalah, Wali Kota Medan inikan miskin sehingga kepala dinas menyumbang kepadanya," cetus Hakim.

KABAR TERBARU Pemko Medan Pertimbangkan PSBB dan Cluster Isolation Atasi Covid-19

Gadis Siantar Usia 19 Tahun Ini Dilaporkan Hilang, Terakhir Terlihat di Rumah Makan 10 Hari Lalu

RS Bunda Thamrin Terbanyak Tangani Pasien Covid-19 di Sumut, Tembus Angka 41 Pasien

Wali Kota yang Persulit Staf

Pada kesempatan yang sama, Hakim Ahmad Sayuti juga menyebut Dzulmi Eldin merupakan Wali Kota yang telah mempersulit stafnya.

Staf yang dimaksud adalah kepala dinas yang diketahui memberikan sejumlah uang kepada Dzulmi Eldin.

Sindiran pedas itu dikatakan hakim Ahmad Sayuti di sela-sela keterangan saksi Iswar S selaku Kadis Perhubungan Kota Medan.

Dalam keterangannya di persidangan, Iswar mengaku terpaksa harus berutang agar dapat memberikan uang Rp 200 juta untuk perjalanan dinas Wali Kota Medan ke Jepang.

Awalnya, Hakim Ahmad Sayuti menanyakan apa motif saksi Iswar memberikan uang tersebut.

Saksi Iswar pun hanya menjawab loyalitas terhadap atasan. "Karena perintah dan loyalitas," jawab Iswar di ruang Cakra VIII Pengadilan Negeri Medan, Senin.

Kemudian diketahui pula bahwa Iswar S ternyata meminjam uang kepada stafnya.

"Masa gara-gara loyalitas Pak Wali itu menyengsarakan stafnya. Luar biasa Pak Wali ini," cetus Ahmad Sayuti.

Tak sampai di situ saja, Ahmad Sayuti juga menyindir Iswar, bahwa jika loyal seharusnya ikut Dzulmi Eldin juga masuk ke dalam Lapas.

"Kenapa kau gak ikut Eldin ke lapas sana? Kalau loyalitas, pernah jenguk dia ke LP?" tanya Hakim, yang kemudian Iswar menjawab belum pernah menjenguk.

Mendengar itu, hakim mencurigai ada maksud lain dari Iswar S dalam memberikan uang tersebut

"Jadi loyalitas apa yang anda maksud di situ? Berarti ada maksud lain kamu di situ," cecar Hakim.

Iswar akhirnya mulai terbuka. Ia mengakui khawatir akan didepak dari jabatannya.

"Kalau sudah tidak loyal, maka ujung-ujungnya akan ke situ," kata Iswar.

"Kenapa? Karena takut dicabutkan?" kejar Sayuti.

"Bener kalau tidak begitu saya akan dicabut," tandas Iswar.

(cr2/TRI BUN-MEDAN.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved