Polemik Baru Muncul di PSMS, Ketua Askot PSSI Medan Iswanda Ramli Sarankan Win-win Solution

Polemik Baru Muncul di PSMS, Ketua Askot PSSI Medan Iswanda Ramli Sarankan Win-win Solution

Penulis: Chandra Simarmata | Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Chandra Simarmata
Ketua Askot PSSI kota Medan, Iswanda Nanda Ramli 

Polemik Baru Muncul di PSMS, Ketua Askot PSSI Medan Iswanda Ramli Sarankan Win-win Solution

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Setelah berakhirnya persoalan dualisme dan masalah hak cipta logo PSMS, muncul lagi polemik baru di tubuh klub berjuluk Ayam Kinantan tersebut.

Polemik terbatu terkait diadakannya pemilihan ketua umum (ketum) PSMS untuk periode 2020-2024

Sebanyak 22 dari 40 klub anggota PSMS Medan turut menghadiri Rapat Anggota Biasa (RAB) yang berlangsung di hotel Madani, Medan, Minggu (26/1/2020) kemarin. Hasilnya, Adi Sahputra secara aklamasi terpilih sebagai Ketum PSMS untuk periode 2020-2024.

Padahal diketahui saat ini yang menjalankan roda manajemen PSMS merupakan PT Kinantan Medan Indonesia dengan penanggung jawab Mulyadi Simatupang dan Julius Raja sebagai Sekum yang juga diberitakan masih diakui PSSI sebagai pengelola PSMS.

Menanggapi adanya polemik baru tubuh PSMS Medan saat ini, Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Medan Iswanda Nanda Ramli turut angkat suara.

Sebagai pimpinan organisasi yang juga menaungi sejumlah klub anggota PSMS, pria yang akrab disapa Nanda ini menyarankan ada baiknya kedua belah pihak untuk duduk bersama terlebih dahulu mencari jalan keluar.

"Kalau soal sah atau tidak sah nya (RAB) itu saya belum bisa bicara saat ini. Kalau dari aku duduk bersamalah. Dalam suasana begini cobalah lebih dingin jangan panas. Adakan pertemuan, diajak komunikasi. Panggil pers kita diskusi kalau menurut saya ya cerita yang netral," ujarnya, Minggu petang (27/1/2020).

Menurut Nanda, jika PSMS tetap dalam polemik, maka efek dari kondisi itu bisa mengakibatkan kekisruhan yang akan berdampak luas bagi PSMS sendiri.

Nanda mencontohkan dengan terus dalam polemik maka salah satunya akan menyulitkan PSMS sendiri dalam menggaet sponsor.

"Aku cerita dampak saja. Kalau PSMS seperti ini sponsor gak akan datang nanti kalau terjadi dualisme ini. Kedua, nanti masyarakat akan bertanya PSMS mana yang betul. Ini takutnya nanti jadi alat politik. Susah nanti," ungkapnya.

Lebih lanjut kata Nanda, dengan musyarawah bersama kedua belah pihak, nantinya bisa dicari win-win solution. Dengan demikian diharapkan polemik maupun dualisme yang muncul lagi saat bisa diredam untuk kemajuan PSMS.

"Saya rasa itu saja, duduk bersama. Karena ujungnya yang rugi juga masyarakat nantinya. Masyarakat gak bisa nonton lagi PSMS. Kalau gak ada sponsor sampai kapan bisa tahan," pungkasnya.

(Cr11/Tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved