Cerita Kehidupan
Jasa Pijat Refleksi Kurang Laku, Saiful Iman Ganti Berjualan Kerupuk di Pinggir Jalan
Kadang Saiful ditipu oleh pembeli kerupuk. Kalau tertipu ia pun hanya bisa pasrah.
TRIBUN-MEDAN.com-Siang ini cuaca begitu cerah, Saiful Iman, seorang tunanetra tampak berdiri di pinggir Jalan T. Amir Hamzah Medan, untuk menjual dagangannya berupa kerupuk.
Saiful menceritakan, sebelumnya ia bekerja sebagai tukang pijat, namun beberapa tahun ini, konsumen yang mau dipijat berkurang drastis sebab sudah banyak saingan.
"Sekarang tempat spa sudah dimana-mana, jadi pasien yang mau dipijat sudah tak ada, kadang dalam sebulan pasien yang dikusuk (dipijat) cuma satu orang. Jadinya saya memilih untuk berjualan kerupuk untuk mencari penghasilan tambahan," ucap Saiful, Selasa (21/1/2020).
Kebutaan tak menghalangi Saiful mencari nafkah.
Pada pukul 06.30 WIB ia sudah berangkat dari rumah untuk berjualan kerupuk, kemudian pada pukul 13.00 WIB, ia kembali ke rumah untuk makan siang dan salat. Selanjutnya, ia kembali lagi untuk berjualan kerupuk hingga malam hari.
"Harga kerupuk ini Rp8 ribu, saya selalu bawa 40 bungkus dari rumah, biasanya rata-rata kerupuk yang laku terjual itu 10 hingga 15 bungkus per hari, ya penjualan kerupuk ini tak menentu," ungkapnya.
• Makin Banyak Tunanetra Turun ke Jalan Cari Nafkah, Pertuni Medan Minta Guiding Block Diperbaiki
Dikatakannya, ia pernah juga mendapat konsumen yang tidak jujur. Sebab, ketika menghitung uang hasil penjualan kerupuknya, ternyata tak sesuai dengan perkiraan. Ia pun mengaku hanya bisa pasrah.
"Uang hasil penjualan kerupuk ini saya pisahkan. Terkadang dia (pembeli) kasih uang Rp5 ribu, dan saya pikir dia kasih Rp10 ribu, kadang ada ragu juga dalam hati."
"Inilah pekerjaan kami, kalau ada yang menokoh (menipu) kami pasrah. Tapi yang beli itu enggak semua nokoh, lebih banyak konsumen yang baik," tambahnya.
Saiful mengatakan ia sudah mengalami kebutaan sejak usia lima tahun, diawali karena penyakit campak. Ia juga sudah pernah berobat, bahkan ia pernah ingin berobat ke Malaysia.
"Dan kata dokter, 'enggak usah dibawa ke Malaysia, percuma saja karena sudah kena saraf'," ucapnya.
Tak kenal lelah, pada malam harinya saat Saiful telah berada di rumahnya, ia tetap menunggu pasien yang ingin dipijat.
Motivasi Saiful untuk tetap bekerja adalah menghidupi keluarga dan membiaya anaknya sekolah.
"Bagaimana lagi. Inilah yang bisa kami buat," jawabnya terhenti.
"Saya mau tetap bekerja demi menghidupi rumah tangga dan biaya anak sekolah," kata warga Jalan Sampul dekat Jalan Ayahanda Medan ini.
Ia berharap agar pemerintah semakin memperhatikan rakyat kecil.
"Saat ini infrastruktur terbangun, semoga pemerintah juga lebih memperhatikan rakyat kecil. Untuk orang-orang muda, bersemangatlah dan semoga mereka juga bisa mengubah nasib kami ini," ucapnya.
(nat/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/tunanetra_medan.jpg)