TRIBUN-MEDAN-WIKI: Mengenal Sejarah dan Kemegahan Masjid Raya Al Mashun di Medan
Masjid Raya Al Mashun menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Medan.
TRIBUN-MEDAN-WIKI: Mengenal Lebih Dekat Masjid Raya Al Mashun di Medan
Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Masjid Raya Al Mashun menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Medan.
Masjid ini mempunyai jejak sejarah cukup panjang. Tak heran, masjid ini termasuk salah satu ikon Kota Medan yang menarik wisatawan.
Masjid Raya Al Mashun dibangun oleh Sulthan Deli Kesembilan, yaitu Sulthan Makhmud Al Rasyid Perkasa Alam.
Proses pembangunannya menelan waktu hingga tiga tahun, tepatnya mulai dibangun pada 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H) dan rampung pada 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H).
Peresmian Masjid Raya Al Mashun berlangsung pada hari Jumat, dan ditandai dengan pelaksanaan salat Jumat pertama di masjid ini.
Masjid yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja Nomor 61 Kecamatan Medan Kota, ini memiliki luas tanah 13.200 meter persegi dan luas bangunan 1.500 meter persegi.
Pembangunan Masjid Raya ini menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Jumlah yang sangat fantastis pada masa itu.
Hal ini memang sesuai dengan keinginan Sultan Makhmud Al Rasyid Perkasa Alam, yang berniat membangun masjid kerajaan nan megah.
Sultan Makhmud berpendapat membangun masjid lebih utama, ketimbang membangun kemegahan istananya sendiri, yaitu Istana Maimun.
Pendanaan pembangunan masjid ini pun ditanggung sendiri oleh Sultan. Namun, kabarnya Tjong A Fie, tokoh Tionghoa, saudagar kaya di Kota Medan era Kolonialisme, turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini.
Arsitektur Masjid Raya Al Mashun Medan
Arsitetur Masjid Raya Al Mashun, awalnya dirancang oleh seorang arsitek dari Belanda, Van Erp. Dia juga merupakan perancang bangunan Istana Maimun.
Namun, pada saat itu Van Erp dipanggil ke Pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda, untuk bergabung dalam proses restorasi Candi Borobudur di Jawa Tengah. Oleh karena itu, JA Tingdeman yang ditunjuk sebagai arsitek untuk meneruskan proses pengerjaan Masjid Raya.
Sang arsitek JA Tingdeman merancang Masjid Raya Al Mashun dengan konsep denah simetris segi delapan dengan sentuhan corak campuran Maroko, Eropa, Melayu, dan Timur Tengah.
Konsep persegi delapan itu menghasilkan ruang bagian dalam yang unik, dan tidak seperti masjid kebanyakan di Tanah Air.
Di empat penjuru Masjid Al Mashun masing-masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing-masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.
Ruangan di bangunan masjidnya terbagi tiga yaitu menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara.
Ruang utama berfungsi untuk tempat salat, yang berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar.
Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan Art Nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamentasi di dalam masjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan.
Di depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, pada segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang salat utama.
Gang-gang ini punya deretan jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan desain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan.
Sementara, kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil.
Lalu, di bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing.
Gerbang mesjid ini berbentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab. Dari kemegahan dan keunikan serta cantiknya arsitektur masjid ini tak terlepas dari bahan-bahan bangunan.
Sebab, sebagian bahan bangunan diimpor dari luar negeri. Seperti marmer, untuk dekorasi yang diimpor dari Italia, Jerman, kaca patri yang berasal dari China, dan lampu gantung langsung dari Perancis.
Fasilitas Masjid Raya Al Mashun
Masjid Raya Al Mashun ini dapat menampung lebih kurang 2.000 jemaah. Masjid ini dilengkapi berbagai fasilitas, seperti parkir, taman, tempat penitipan sepatu dan sandal, kantor sekretariat, penyejuk udara (AC), sound system dan multimedia, kamar mandi wc, tempat wudhu, dan sarana ibadah.
Adapun kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan pengurus masjid, yaitu Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam dan Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu.
Saat ini jumlah pengurus Masjid Raya Al Mashun kurang lebih 10 orang dan memiliki Imam Khatib 33 orang. Biasanya Masjid Raya Al Mashun bukal mulai pukul 04.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB, namun jika ada acara tertentu bisa beroperasi sampai 24 jam.
Al Quran di Masjid Raya Al Mashun Medan
Ada tiga Al-Quran di Masjid Raya Al Mashun, yang merupakan Al-Quran tertua sekaligus terbesar di Kota Medan. Al-Quran tersebut terletak di dalam ruangan Masjid Raya Al Mashun Medan, tepatnya di dalam rak besar dengan penutup kaca.
Konon Al-Quran tersebut diduga sudah berusia ratusan tahun, bahkan lebih tua daripada Masjid Raya Al Mashun.
Al-Quran yang berusia ratusan tahun itu terbuat dari bahan kertas kulit kayu yang ditulis tangan.
Pengunjung bisa memperhatikan tulisan Al-Quran dari jarak dekat, untuk memastikan bahwa Al-Quran tersebut tulisan tangan atau tidak. Namun, pengunjung tidak bisa menyentuh atau memegang Al-Quran itu.
Badan Kemakmuran Masjid sudah mengeluarkan larangan karena dikhawatirkan akan merusak Al-Quran tersebut.
Larangan itu bukan tanpa alasan. Dua dari tiga Al-Quran tertua di Masjid Raya Al Mashun ini sudah rusak akibat sering dipegang oleh pengunjung.
Sebelumnya, ketiga Al-Quran tersebut bisa disentuh serta dipergunakan. Namun, karena terjadi kerusakan pada dua Al-Quran maka pihak dari Masjid mengamankannya dengan meletakkan di rak besar.
Walaupun sudah berusia ratusan tahun dan terletak di rak tersebut, satu di antara Al-Quran tersebut masih utuh dan bisa dibaca secara jelas. Akan tetapi sampai saat ini belum diketahui pasti tentang asal-usul Al-Quran tertua tersebut. Sebab, belum adanya bisa menerjemahkan bahasa mukadimah dari Al-Quran tersebut. Kabarnya, bahasa di Al-Quran tersebut merupakan bahasa Urdu dan Parsi.
Pihak Masjid pun berharap adanya arkeolog atau peneliti yang bisa menerjemahkan Al-Quran tersebut. Tetapi, hasil terjemahaannya diberikan kepada pihak Masjid agar bisa memberikan informasi tentang Al-Quran tersebut ke masyarakat yang datang ke Masjid Raya Al Mashun.
Sumber: Muhammad Hamdan sebagai Pengurus Masjid Al Mashun Kota Medan
(cr22/Tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/masjid-raya-al-mashun-2.jpg)